epar.org

angerang Performance Art Organizing


tepar.org

 

 

 

pariwara-wiri:  BOMB d sign  | IDHostinger.com  | Paid Survey  | 000webhost  | Indowebsite  | Indositehost.com  | Chitika


Refleksi Reformasi

Mengenang Tragedi Mei '98 hari minggu 18 Mei 2008 lalu di Gedung Kesenian Tangerang, dalam gelaran ini tampil sebagai narasumber Wanda Hamidah (Mantan aktivis mahasiswa '98 yang juga Model dan pemain Film ), Tan Swie Ling (Pekerja SOSPOL/HAM) dan dimoderatori oleh Endro Ist (Budayawan). Selain itu acara ini juga diisi dengan Penampilan lagu dari HARU (Pemusik Independen), Boy Mihaballo (Aktivis Teater) dalam Performance Art berjudul REMEMBRANCE, N'dang Satya (Peteater) dalam Narasi Diri, dan juga rekan dari Sanggar Anak Negeri (SAN) yang bermonolog tentang kekuasaan.

DULU
Tepatnya 10 tahun yang lalu, seluruh komponen bangsa bahu membahu dan bersatu dalam gerakan moral menuntut Reformasi Total. Para Aktivis Pro Demokrasi, Gerakan Mahasiswa, Aktivis Buruh, Kalangan Seniman, Kaum Miskin Kota, dan masih banyak lagi elemen negeri tumpah ruah ke jalan dalam satu barisan menentang rezim Orde Baru. Dalam suasana riuh tersebut meletuslah peluru-peluru tajam yang menewaskan martir dari Mahasiswa Trisakti, peristiwa ini "..the most shocking moment",kata Wanda- memicu kejadian yang lebih mengejutkan lagi yaitu penjarahan dan kerusuhan rasial yang disertai pembakaran rumah-rumah "non pribumi" dan pemerkosaan terhadap 85 perempuan etnis China (Laporan Komnas Perempuan, 17 Mei 2008) dan ini tercatat sebagai salah satu masa-masa kelam dalam sejarah bangsa ini. Belum lagi stigma penjarah dan perusuh yang dilabelkan kepada masyarakat awam oleh aparat keamanan yang seakan menyederhanakan tuntutan rakyat akan reformasi menjadi kerusuhan yang berbau kriminal. Banyak yang hangus terpanggang tanpa menyadari bahwa dirinya adalah korban peristiwa politik yang terjadi saat itu. Masih tercatat dalam dokumentasi media massa nasional yang mengabarkan bahwa Panglima ABRI (Waktu itu Jendral Wiranto) akan mengumumkan nama penembak Pahlawan Reformasi dalam waktu secepatnya dan selanjutnya persidangan akan segera bergulir, atau janji Kapolda Metro Jaya (Waktu itu MayJend.Hamami Nata) yang bersedia dicopot jika Jakarta dilanda kerusuhan tetapi kenyataannya Indonesia Membara dan tak ada yang bertanggung jawab.

Peserta Diskusi Refleksi Reformasi
Peserta Diskusi Refleksi Reformasi.

 

KINI
Satu dasawarsa telah berlalu, apakah reformasi telah menjadi?
Boy Mihaballo merepresentasikan kondisi satu dekade dalam performance art bertitel Remembrance dimana tubuhnya adalah tubuh Indonesia yang krisis sementara perilaku memakan uang hasil korupsi sudah mewabah dimana-mana belum lagi "tragedi-tragedi" yang bernuansa professional di penjuru wilayah dan cita-cita bangsa semakin tinggi menjauh dari pandangan. Kenapa bisa sebuah tujuan mulia melenceng dari sasaran dan mengakibatkan krisis yang berkelanjutan? "Euforia!", kata Tan Swie Ling, membuat kita semua 'mabuk' dan melupakan fondasi kebangsaan yang sudah kita sepakati bersama. Ia juga memandang peristiwa Mei '98 itu sebagai sebuah peristiwa politik yang terulang kembali, sebab berkaca dari sejarah tahun 1963 dimana kaum etnis Tionghoa menjadi korbannya dan juga indikasi keterlibatan CIA dalam menggerakan kerusuhan menjadi pembantaian etnis. "Ini adalah peristiwa politik yang mesti disikapi dengan gerakan politik!", katanya. Sementara, situasi nasional berkembang kearah yang tak tentu, dimana pengingkaran terhadap janji-janji terus dan terus terjadi. Ditambah pula dengan kondisi lembaga hukum kita yang berada dalam ambang keterpurukan karena 'mafia peradilan'. Para Purnawirawan Jendral berkumpul dan dengan tegas menolak panggilan Komnas HAM guna pengusutan pelanggaran HAM yang terjadi. Lalu buat apa Komnas HAM dibentuk bila ternyata "komando" para mantan pejabat militer lebih bertuah? Lantas dikembalikannya kembali berkas perkara kerusuhan mei '98 oleh Kejaksaan karena 'kurang lengkap'nya bukti-bukti untuk membawa kasus ini ke tingkat pengadilan HAM. Ditengah periode pembusukan ini Wanda menyatakan agar para idealis memasuki partai politik guna membersihkan sistem politik dari pembusukan yang terjadi. Masih layakkah parpol dipercaya? Bagi seorang anarkis parpol adalah salah satu hirarki politis yang mesti dihancurkan, untuk rakyat kebanyakan parpol itu tidak penting dibandingkan upaya memenuhi kebutuhan hidup. Memang, ada kecenderungan apolitis dari masyarakat banyak karena trauma-trauma yang terjadi hingga membuat banyak orang menyerahkan begitu saja sistem politik yang berjalan kepada politikus yang belum tentu bernurani. Tetapi, parpol masih layak dipercaya bila dikelola oleh mereka yang memiliki komitmen moral dan hati yang bersih, namun bukan hanya parpol, karena demokrasi(yang juga menjadi salah satu tuntutan reformasi) adalah proses sinergi bersama seluruh elemen bangsa.

ki-ka: Tan Swie Ling, Endro Ist (Moderator) dan Wanda Hamidah.
ki-ka: Tan Swie Ling, Endro Ist (Moderator) dan Wanda Hamidah.

 

KODA
Terbersit pertanyaan, "Bagaimana kalau kita melupakan sejarah dan peristiwa yang sama berulang kembali?"
Apakah kita harus "mengasingkan diri dan mabuk?", seperti yang diucapkan Ndang (Penggiat teater) agar suci dari hiruk pikuk yang terjadi? "Jangan sekali-kali melupakan sejarah!", kata Bung Karno. "Belajar dari pengalaman", ujar Tan Swie Ling. Ini adalah upaya yang maha besar, perjuangan melawan lupa, dan selalu berada di jalur yang sunyi. Risiko sebuah idealisme. Toh, segala yang besar bermula dari yang kecil bukan? Kita mungkin bisa menertawakan aksi unjuk rasa yang dilakukan 2 orang saja, tetapi keyakinan akan menular dengan sendirinya dan menggelinding bagai bola salju. Yuk, Bangun Indonesia !

www.000webhost.com