epar.org

angerang Performance Art Organizing


Seni Dan Kekuasaan

 

 

 

pariwara-wiri:  BOMB d sign  | IDHostinger.com  | Paid Survey  | 000webhost  | Indowebsite  | Indositehost.com  | Chitika


Seni Dan Kekuasaan

epar.org kembali menyelenggarakan diskusi yang kali ini bertema SENI DAN KEKUASAAN" pada tanggal 18 Januari 2009 lalu di "Gedung Kesenian Tangerang". Pada gelaran ini hadir sebagai narasumber Edi Bonetski (Musisi dan Pencipta Lagu), Yanto (Musisi), Mukafi Solihin (Organisator bidang seni dan sosial budaya) dan Dadang Kartasasmita (Politisi) dengan pemandu Ono Sembung Langu (Penyair). Tampil pula mengisi acara FEëT [Forum Eksperimëntal Teater], HARU, Sirkus Perkusi dan kolaborasi para narasumber.

SENI
Apakah seni? Ini pertanyaan yang terkadang jawabannya tak sesingkat pertanyaannya, karena terdapat aneka ragam pemaknaan akan seni itu sendiri.
H.Dadang menyebut tiga faktor pembentuk seni: adanya pelaku, karya dan nilai pada karya seni si pelaku itu sendiri. Sementara H.Iyan (Ketum DKT) menuturkan tiga rumusan seni yaitu: baik, benar dan indah.
Kemudian Mukafi Solihin mensyaratkan kesenian tidak boleh dibatasi oleh ruang dan waktu. Lalu Yanto (ex Flash Band) mengisahkan pengalaman berkesenian sedari muda hingga akhirnya membiakkan wawasan akan seni. Juga ada Juki (Aktivis Teater) yang mempertanyakan identitas kesenian dari Tangerang serta tak lupa mempersoalkan kemajuan seni yang berjalan lambat di Tangerang.
Dari sekian kepala terlontar sekian pemikiran mengenai seni yang perlu disikapi sebagai bentuk kemajemukan yang memperkaya khasanah seni di Tangerang.

KEKUASAAN
Dadang, yang juga calon DPD, mengungkap definisi kekuasaan sebagai upaya membentuk kekuatan untuk meraih kekuasaan, setelah menguasai skemanya menjadi upaya menggunakan kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan.
Di lain sisi, H.Iyan merasa perlu diferensiasi antara penguasa dan kekuasaan. Karena bentuk kekuasaan akan tergantung dari penguasanya itu sendiri.
Dan disaat bersamaan relasi seni dan kekuasaan bergulir pula, Yanto (Caleg DPRD I Banten) mengurai relasi tersebut dalam institusi DKT sebagai lembaga mitra negara dalam bidang seni dan budaya yang dalam perjalanannya mengalami fluktuasi di sisi keakraban dengan kekuasaan.
Edi Bonetski (Caleg DPR RI Dapil III Banten) malah menampik batasan antara seni dan kekuasaan karena keduanya bisa berdampingan tanpa batasan.
Mukafi Solihin (Caleg DPRD II Kabupaten Tangerang) menimpali dengan mengatakan seni adalah bentuk kekuasaan apabila para pelaku bisa menguasai dirinya.
Di lain pihak lagi Juki meyakini kekuasaan adalah jembatan bagi seni untuk dapat lebih meluas lagi.
Dan sebaliknya, Sumangku (Pelaku Seni Teater) melontarkan sinyalemen bahwa kekuasaan tidak memerlukan kesenian.
Bola-bola opini telah bergulir kesana kemari, lalu bagaimana menjadikan segalanya sebagai anugerah yang berharga bagi kemajuan peradaban?
Dadang menekankan politik dalam tataran praktis guna mendayagunakan potensi bersama untuk menyatukan kepentingan semua.
Edi, Yanto dan Mukafi telah membulatkan tekad menjadi calon legislatif dalam menyuarakan kepentingan.
Walau tak ada niat, hanya karena dukugan bergulir terus maka semua menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, menjadi amanah yang perlu dituntaskan.
Seperti diungkap Mulyono (Ketua DKT), bahwa kemuliaan ada dimana-mana entah itu jalur parlemen, jalur seni dan lain-lain.
Tetapi memang kita wajib mengetahui siapa calon wakil rakyat yang akan kita serahi mandat kita. Bila suara kesenian tidak diaspirasikan kalangan seniman maka siapa lagi yang bisa diharapkan?
Dan bila pun mereka melaju menjadi wakil rakyat nantinya, dengarlah suara N'dang (Pelaku Teater) yang meminta untuk tidak dilupakan.
Ini permintaan yang sangat sulit di saat sejarah telah mencatat betapa semua wakil rakyat telah melupakan asal-usulnya.

www.000webhost.com