epar.org

angerang Performance Art Organizing


Pendidikan Untuk Semua

 

 

 

pariwara-wiri:  BOMB d sign  | IDHostinger.com  | Paid Survey  | 000webhost  | Indowebsite  | Indositehost.com  | Chitika


PENDIDIKAN UNTUK SEMUA

Pendidikan adalah hak dan kewajiban dari setiap warga negara untuk mendapatkannya, baik di kota, di desa atau dimanapun jua. Sejak zaman Yunani kuno, pendidikan menjadi unsur yang vital dalam proses pembentukan peradaban sebuah bangsa. Pendidikan menjadi mata rantai yang tak terpisahkan dari keberlangsungan sebuah negara. Dari pendidikan akan lahir generasi-generasi penerus yang menjadi tumpuan negeri.
Kesenian adalah pilar dari peradaban yang juga bertaut paut dengan pendidikan. Karena dalam seni juga terdapat elemen dasar pendidikan dimana terjadi proses alih pengetahuan baik lewat jalur verbal maupun non verbal.
Paragraf diatas menjadi landasan bagi epar.org (angerang Performance Art Organizing) yang didukung penuh oleh Dewan Kesenian Tangerang (DKT) untuk menggelar sebuah acara pentas seni dan diskusi pada minggu 26 Juni 2011 lalu di Gedung Kesenian Tangerang.

Dalam acara yang mengambil tema "Pendidikan Untuk Semua" ini hadir jaringan-jaringan kesenian di Tangerang juga Jakarta. Proses kerja kolaborasi antar pegiat kesenian berbagai bentuk ini menjadi semacam penanda atas gelaran epar.org selama ini.
Dibuka dengan penampilan Ollabahim Yob dari Forum Experimëntal Teater (FeëT) dengan sajian performance art berjudul "Indonesia Sold Out" tepat pada pukul delapan malam yang mengajak penonton yang hadir untuk merenungkan betapa negara ini dibangun dari keringat dan darah para pahlawan namun kini bergeser kepada liberalisasi segala bidang bahkan juga pendidikan. Situasi serius dibawakan dengan pola interaktif yang memancing celetukan penonton tersebut menjadi adegan penyegar di awal acara.
boy mihaballoKesegaran yang hadir diperpanjang lagi dengan tampilnya DUTASIA, sebuah yayasan yang mengkhususkan pada bantuan pendidikan formal bagi anak kurang mampu di sekitar Bencongan, Karawaci. Anak-anak DUTASIA tidak hanya mempelajari pendidikan formal namun juga diajari dengan pengetahuan soal seni dan kriya. Mereka mempelajari musik, puisi, teater juga mengolah limbah menjadi kriya artistik. Pada acara ini DUTASIA menyuguhkan musik dan puisi yang bernarasi tentang kehidupan mereka. Tak kurang tiga lagu serta dua puisi yang dibawakan melarutkan penonton untuk menikmati dan menghayati kehidupan mereka.
dutasiaSesudahnya tampil Sereboe Teater dengan dramatic reading membawakan naskah "ADUH" karya Putu Wijaya. Naskah yang telah berumur tiga dekade lebih ini terasa nyambung dengan situasi kondisi terkini dari masyarakat yang telah berserak dalam keping-keping individualitas. Konflik yang diajukan adalah sesosok mayat yang hanya direspon dengan komentar-komentar tanpa ada aksi nyata. Aduh adalah jeritan bathin yang tersiksa menatap tercerai berainya solidaritas antar manusia.
Berikutnya adalah Medi Kesesi dengan memutar film pendeknya berjudul "Ada Apa dengan Abah?". Film berdurasi lima belas menit ini membawa penonton fokus terhadap sosok Abah, seorang pemulung yang tidak mengenyam pendidikan formal, namun cerdas dalam menghadapi tantangan hidup. Para penonton yang sebagian besar telah mengenal Abah dibawa untuk menghayati kehidupan keras yang dialaminya. Dengan alur yang mengkombinasikan karakter riil dengan karakter rekaan, yang dibawakan dengan natural oleh siswa-siswa SMKN 3, maka film ini terasa berbicara soal pendidikan dalam makna yang meluas.
Tema yang lebih kompleks juga ditayangkan dalam film dokumenter berjudul "Guru Rimba, Dimanapun Jadi Sekolah" buatan Secret Prayer. Film yang mengambil lokasi pengambilan gambar di Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi ini menyajikan alur yang menanjak. Diawali dengan kehidupan para Guru Rimba, sebutan bagi relawan yang mengajar di Sokola Rimba, dengan suka dukanya berjuang membebaskan Orang Rimba dari buta huruf. Sokola Rimba adalah sekolah tanpa sekat dinding sebagaimana sekolah yang kita kenal. Mereka belajar di bawah rimbunan hutan dan bila malam diterangi cahaya lampu minyak. Namun semangat yang bersinergi antara Guru dan Orang Rimba tak menurunkan semangat mereka untuk mempelajari aksara.
Dari perjuangan membebaskan Orang Rimba dari buta huruf, narasi film melangkah kepada Kelompok Makekal Bersatu (KMB), yang didirikan oleh generasi muda Orang Rimba yang belajar di Sokola Rimba, untuk membebaskan Orang Rimba dari buta hukum. Organisasi ini terbentuk karena tuntutan kondisi dan berbagai kasus yang mengancam kehidupan Orang Rimba di Bukit Duabelas.
Wilayah Bukit Duabelas yang didiami Orang Rimba secara turun temurun pernah dijadikan cagar biosfer, karena cagar biosfer adalah wilayah bagi hewan, pada tahun 2000 (Menkehut SK No 258/Kpts-II/2000) statusnya diubah menjadi Taman Nasional oleh Departemen Kehutanan (kini Kementrian Kehutanan), karena ini satu-satunya aspek konservasi yang memungkinkan keberadaan Orang Rimba di area Bukit Duabelas. Saat ini KMB mengadvokasi revisi RPTNBD (Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas) karena proses pengambilan data yang dilakukan dalam penyusunan RPTNBD tidak prosedural dan tidak sesuai dengan aspirasi Orang Rimba, maka segala aturan yang tertuang di dalamnya, utamanya aturan zonasi yang sangat bertentangan dengan sistem konservasi tradisional yang digunakan Orang Rimba. Sistem konservasi tradisional yang secara turun temurun dijalankan Orang Rimba telah terbukti menjaga hutan habitat mereka tetap lestari.
Ada pula konflik yang ditayangkan dalam film ini dimana Orang Rimba berhadapan dengan PT.Sari Aditya Loka (SAL), anak perusahaan Astra Group, yang menerima label Hijau dari Kementrian Lingkungan Hidup. PT. SAL memublikasikan kebohongan yang dibantah juru bicara KMB, Pengendum Tampung (baca pula di infojambi.com 23 Desember 2010 dan tempointeraktif.com 13 April 2011), bahwa tidak pernah ada bantuan penyuluhan kesehatan untuk melahirkan bagi Orang Rimba dan aktivitas pendidikan seperti yang di klaim humas PT.SAL. Di tahun 2007 terjadi tindak kekerasan penembakan pada Orang Rimba yang memunguti sisa berondol kelapa sawit di lokasi kebun PT.SAL. Walhi Jambi mengeluarkan rekomendasi diantaranya mendesak Kepolisian untuk melakukan proses hukum dan membuktikan telah terjadinya tindak pidana, dan untuk segera menyelesaikan persoalan dan pengelolaan Taman Nasional serta untuk menghormati dan memberikan perlindungan HAM terhadap keberadaan Orang Rimba (baca pula walhi-jambi.blogspot.com). Sampai kini kedua kasus besar tersebut belum tertuntaskan.
DiskusiSutradara film dokumenter ini, Vivian Idris, mengatakan bahwa pada mulanya film dokumenter Guru akan menggabungkan tiga sosok guru dari latar belakang lokasi yang berbeda, yaitu Guru Kota, Guru Desa dan Guru Rimba. Pada perjalanannya cerita Guru Rimba dengan latar belakang sosial, ekonomi, politik dan budaya yang lebih kompleks dibandingkan dua cerita lainnya, berkembang menjadi satu cerita tersendiri. Film ini adalah bagian dari serial film dokumenter Guru, film berikutnya rencananya akan selesai pada tahun ini juga.
Vivian juga mengungkapkan betapa peraturan adat di Rimba tidak mengijinkan perempuan Orang Rimba untuk berkegiatan bersama atau bercampur dengan laki-laki Orang Rimba, karenanya sampai saat ini di lokasi Sokola Rimba tidak ada perempuan Orang Rimba yang ikut belajar sebab kegiatan belajar dilakukan secara komunal dengan murid-murid dan pengajar yang sebagian besar laki-laki. Butet Manurung pernah mengajar murid-murid perempuan Orang Rimba di daerah Kejasung, Bukit Duabelas. Kegiatan belajar ini bisa terlaksana karena ada guru perempuan dan aktifitas belajar yang terpisah dengan laki-laki.
Tantangan berat dialami oleh Vivian bersama tim Secret Prayer yang mengakui baru pertama kali memasuki hutan belantara dan beradaptasi dengan pola hidup Orang Rimba. Lokasi pengambilan gambar di Bukit Duabelas ditempuh lima jam dari Jambi menuju Bangko (Kota Kabupaten terdekat dengan lokasi Taman Nasional Bukit Duabelas, tempat tinggal Orang Rimba). Dari Bangko perjalanan dilanjutkan ke satuan pemukiman (SP) transmigran yang berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Duabelas kurang lebih dua hingga tiga jam dengan kendaraan. Dari SP rute berikutnya dilalui dengan berjalan kaki sejauh satu setengah jam, yang bila hujan menjadi tiga sampai empat jam, untuk mencapai Sokola Rimba di Makekal Hulu. Makekal Hulu adalah salah satu rombong (kelompok Orang Rimba) penduduk asli Taman Nasional Bukit Duabelas, ada sekitar dua belas rombong Orang Rimba dan kurang lebih tiga ribu jiwa yang mendiami area seluas 60.500 hektar ini.

Dalam diskusi yang digelar sesudah pemutaran film dengan narasumber Vivian Idris dan Mulyono Sobar, pendidik dan juga pengurus Dewan Kesenian Tangerang, serta dipandu Boy Mihaballo tersingkaplah tabir betapa Pendidikan begitu berharganya bagi generasi muda bangsa ini. Terasa kontras dengan tingginya angka putus sekolah di negeri ini dimana dana pendidikan mendapat alokasi terbesar dari APBN.
Mulyono Sobar pun mengakui betapa masih banyak anak-anak usia sekolah di kota-kota besar masih banyak yang tak melanjutkan sekolah karena alasan biaya. Berbeda dengan anak-anak di wilayah pedesaan, sebagaimana yang dialaminya, yang antusias dalam mengikuti pendidikan. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pengajar baik formal maupun non-formal untuk mencari solusinya dengan cara yang berbeda.
Keberagaman metode pendidikan juga diyakini Vivian, yang memercayai bahwa pendidikan seharusnya berguna bagi sosial tidak hanya bagi diri sendiri. Pendidikan adalah pintu masuk menuju kehidupan yang lebih baik bagi lingkungan.
Diakhir acara terjalin kesepahaman bahwa pendidikan itu wajib bagi semua tanpa perlu lagi alasan karena mahalnya biaya pendidikan di era liberalisasi segala lini di zaman kini.
Dan tepat di pukul setengah sebelas malam acara pun berakhir dengan membawa pencerahan baru bagi semua yang ada untuk berguna bagi sesama.

www.000webhost.com